Minggu, 06 Januari 2013

Pelanggaran Empat Maksim Kerjasama dalam Drama Seri “1 Litre of Tears「1リットルの涙」” Episode 1 Produser Satoko Kashikawa


BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Kajian pragmatik adalah salah satu kajian linguistik yang diambil dari sudut pandang bahasa dalam konteksnya. Dimana ruang lingkup pragmatik sangat luas terdapat banyak poin yang dibahas dalam lingkup pragmatik salah satunya mengenai apa itu asas atau prinsip kerjasama. Prinsip kerjasama sangatlah penting dalam suatu percakapan antara penutur dan lawan tutur. Salah satu keberhasilan suatu percakapan dengan menggunakan asas kerjasama yang tepat. Misalnya pada bentuk percakapan di bawah ini,
Ibu              : Kantong apa itu, nak?
Anak           : Ya Kantong, bu!
Dari percakapn di atas ibu bertanya mengenai kantong yang dibawa oleh anaknya dan berharap mendapat informasi secara relevan dan mendetail mengenai pertanyaannya. Sedangkan anak hanya menjawab seadanya dimana pengulangan kantong disebut tautology (pengulangan kata tanpa menambah kejelasan). Hal ini bukan merupakan suatu komunikasi yang baik dimana anak melanggar adanya asas kerjasama dalam tuturannya. Asas kerjasama itu sendiri memiliki empat aspek yang disebut maksim.
Dari empat maksim itu maka percakapan-percakapan yang melanggar asas kerjasama dapat dengan mudah diketahui dan dianalisis. Hal ini yang melatarbelakangi peneliti untuk mengaalisis adanya pelanggaran asas kerjasama dalam salah satu film Jepang. Dan untuk mengetahui apakah dalam film tersebut terdapat banyak maksim –masim yang tidak ditaati.
1.2 Rumusan Masalah
           1. Pelanggaran kerjasama apa saja pada Film “ Oniichan no hanabi 「お兄ちゃんのハナビ」  Director by 国本雅 (Masahiro Kunimoto)?
           2. Apakah empat aspek maksim dapat membantu mengetahui pelanggaran asas kerjasama?
1.3 Tujuan
1.      Dapat mengetahui pelanggaran kerjasama apa saja pada Film “ Oniichan no hanabi 「お兄ちゃんのハナビ」  Director by 国本雅 (Masahiro Kunimoto).
2.      Dapat mengetahui hubungan empat aspek maksim dapat membantu mengetahui pelanggaran asas kerjasama.

BAB II
Landasan Teori
A.    Pragmatik
Pragmatik adalah kajian linguistik yang berhubungan dengan perlakukan tutur. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Verhaar, Menurut Verhaar (1996:14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual yang dibicarakan. Dapat disimpulkan kajian ini merangkul penutur dan tertutur sebagai sumber data dalam kajian pragmatik. Dimana konteks kaempatt sangat memegang penting dalam kajian pragmatik ini.    Pragmatik memiliki kajian atau bidang telaah tertentu yaitu dieksis, praanggapan (presupposition), tindak tutur (speech acts), dan implikatur percakapan (conversational implicature) (Kaswanti Purwo, 1990:17).
Poin-poin diatas akan dibahas lebih rinci dan mendetail. Namun lebih menekankan pada apa itu tindak tutur, dan implikatur. Lebih merinci lagi pada pragmatik, Levinson (1983) menyatakan ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut:
(1) Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Di sini, pengertian atau pemahaman bahasa mengnunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kaempatt-kaempatt dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kaempatt-kaempatt itu´ (dalam Nababan, 1987:2). Seperti apa yang dimaksud dari pernyataan yang bermakna sempit namun berarti luas bagi penutur dan lawannya jika memiliki wawasan yang sama, maka diperlukannya kajian pragmatik.
B.     Asas Kerjasama
Rustono (1999:55) menyatakan Prinsip percakapan (Convensional principle) adalah prinsip yang mengatur mekanisme percakapan antar pesertanya agar dapat bercakap-cakap secara kooperatif dan santun. Dari batasan itu dapat dikemukakan bahwa prinsip percakapan itu mencakup dua, yaitu prinsip kerjasama (cooperative principle) dan prinsip kesantunan (politeness principle).
Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya berlevan dengan situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan dengan lancar.
Kaidah-kaidah itu di dalam kajian pragmatic, dikenal dengan prinsip kerja sama. Grice (dalam Kushartanti, 2007: 106)  mengungkapkan bahwa di dalam prinsip kerja sama, seorang pembicara harus mematuhi empat maksim. Maksim adalah prinsip yang harus ditaati oleh peserta pertuturan dalam berinteraksi, baik secara tekstual maupun interpersonal dalam upaya melancarkan jalannya proses komunikasi. Keempat maksim percakapan itu adalah: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, maksim cara dan maksim pelaksanaan.
C.     Maksim-Maksim Kerjasama
1.      Maksim kuantitas
Berdasarkan maksim kuantitas, dalam percakapan penutur harus memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tuturnya. Misalnya:
(a)    Anak gadis saya sekarang sudah punya pacar.
(b)   Anak gadis saya yang perempuan sudah punya pacar

Kaempatt (a) menunjukkan kontribusi yang cukup kepada mitra tuturnya. Bandingkan dengan kaempatt (b) yang terasa berlebihan. Karena di dalam kaempatt (b) kata gadis sudah mencakup makna ’perempuan’ sehingga kata perempuan dalam kaempatt tersebut memberikan kontribusi yang berlebih. Maksim kuantitas juga dipenuhi oleh apa yang disebut pembatas (hedge), yang menunjukkan keterbatasan penutur dalam mengungkapkan informasi. Hal ini dapat kita lihat dalam ungkapan di awal kaempatt seperti singkatnya, dengan kata lain, kalau boleh dikatakan, dan sebagainya.
2.      Maksim Kualitas
Berdasarkan maksim kualitas, peserta percakapan harus mengatakan hal yang sebenarnya. Misalnya, seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang seharusnya mengatakan bahwa Kampus Universitas Negeri Semarang terletak di semarang, bukan kota lain, kecuali jika ia benar-benar tidak tahu. Kadang kala, penutur tidak merasa yakin dengan apa yang diinformasikannya. Ada cara untuk mengungkapkan keraguan seperti itu tanpa harus menyalahi maksim kualitas. Seperti halnya maksim kuantitas, pemenuhan maksim kualitas oleh ungkapan tertentu. Ungkapan di awal kaempatt seperti setahu saya, kalau tidak salah dengar, katanya, dan sebagainya, menunjukkan pembatas yang memenuhi maksim kualitas.
3.      Maksim Relevansi
Berdasarkan maksim relevansi, setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan situasi pembicararaan. Misalnya
(a)    A: Kamu mau minum apa?
B: Yang hangat-hangat saja.
(b)   C: Kamu mau minum apa?
D: Sudah saya cuci kemarin.
Di dalam penggalan percakapan (a) kita dapat melihat bahwa B sudah mengungkapkan jawaban yang relevan atas pertanyaan A. Di dalam penggalan percakapan (b), sebagai penutur bahasa Indonesia kita dapat mengerti bahwa jawaban D bukanlah jawaban yang relevan dengan pertanyaan C. Topik-topik yang berbeda di dalam hubungannya dengan maksim relevansi, kaitan ini dapat dilihat sebagai pembatas. Ungkapan-ungkapan di awal kaempatt seperti Ngomong-ngomong....., Sambil lalu....., atau By the way...... merupakan pembatas yang memenuhi maksim relevansi.
4.      Maksim Cara (Pelaksanaan)
Berdasarkan maksim cara, setiap peserta percakapan harus berbicara langsung dan lugas serta tidak berlebihan. Wijana menyatakan maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebih-lebihan, serta runtut (1996:50). Misalnya:
(a)    A: Mau yang mana, komedi atau horor?
B: Yang komedi saja. Gambarnya juga lebih bagus.
(b)   C: Mau yang mana, komedi atau horor?
D: Sebetulnya yang drama bagus sekali. Apalagi pemainnya aku suka semua. Tapi   ceritanya tidak jelas arahnya. Action oke juga, tapi ceritanya aku taidak mengerti.
C: Jadi kamu pilih yang mana?
Di dalam kedua penggalan percakapan di atas kita dapat melihat bahwa jawaban B adalah jawaban yang lugas tidak berlebihan. Pelanggaran terhadap maksim dapat dilihat dari jawaban D. Untuk memenuhi maksim cara/ maksim pelaksanaan, adakalanya kelugasan tidak selalu bermanfaat di dalam interaksi verbal. Sebagai pembatas dari maksim cara/ plelaksanaan, pembicara dapat menyatakan ungkapan seperti bagaimana kalau....., menurut saya..... dan sebagainya.
D.    Drama One Litre of Tears Episode 1
Drama ini mengambil dari kisahnya seorang gadis yang memiliki penyakit mematikan. Dalam drama ini akan di analisis percakapan seperti apa yang dilaggar dalam drama ini. Ceritanya mengisahkan seorang remaja perempuan (Ikeuchi Aya) yang dulunya begitu aktif tetapi setelah disahkan menghadapi penyakit Spinocerebeller ini. Penyakit Spinocerebellar belum lagi ada penawarnya. Dia begitu tabah dan kuat untuk melawan penyakitnya sehingga dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tabah yang dia ada belum setaraf tabah kita. Kalau ada yang rasa putus asa dengan apa-apa. Dibintangi oleh Erika Sawajiri sebagai Ikeuchi Aya, Ryo Nishikido sebagai Asou Haruto, Naohito Fujiki as Hiroshi Mizuno (Dokter Mizuno), Hiroko Yakushimaru as Ikeuchi Shioka (Ibu Aya), Takanori Jinnai as Ikeuchi Mizuo (Ayah Aya), Riko Narumi as Ikeuchi Ako (Adik Aya), Ai Miyoshi as Ikeuchi Rika (Adik Aya), Yuma Sanada as Ikeuchi Hiro (Adik Aya), Saori Koide as Mari Sugiura (Teman Aya), Kenichi Matsuyama as Yuji Kawamoto (Kakak Kelas Aya).
BAB III
Analisis
A.    Pelanggaran maksim pada drama one litre of tears ep01
Pelanggaran-pelaggaran maksim-maksim yang berhubungan dengan asas kerjasama terdapat pada drama one litre of tears ep 1. Analisis mengambil hanya pada episode 01 sebagai batasan penelitian analisis ini. Pelanggaran maksim kualitas terjadi pada dialog ayah dan Aya saat bercakap mengenai perilaku Aya yang tidak tidur semalaman,
御父さん      :亜也。お前、ゆうべ遅かったんだろう?
Ayah               :  Aya. Kamu kemarin malam telat tidurkan?
亜也              :うん,3時ごろかな。(MKt)
Aya                 : Iya, kira-kira jam 3 (sepertinya)
御父さん      :だったらほとんど寝てないじゃないか、お前。
Ayah               : Kamu, sekarang jadi sering tidak tidur kan?
(00:03:59- 00:04:06)
Dari percakapan yang terjadi di atas Aya menjawab pertanyaan Ayahnya dengan memberi sedikit informasi yang meragukan dan tidak lugas mungkin juga Aya saat menjawab pertanyaan ayahnya berbohong jika ia tidur pada jam 3. Sehingga dapat disimpulkan dalam tindak tutur percakapan Aya, Aya melanggar adanya maksim kuantitas (MKt).
 Pelanggaran asas kerjasama melalui keempat maksim terdapat pada percakapan antara Aya dan Mari.
マリ              :ねえ 亜也。 高校入ったらさ携帯買ってもらいなよ。
Mari                : Hey, Aya. Kalau masuk SMA, mintalah untuk dibelikan HP
亜也              :うん。
Aya                 : Iya.
マリ                          :携帯今どき持ってないなんてあんたぐらいだよ。携帯持ってたらさ 今朝だってすぐ連絡できたのに。(MKt)
Mari                          : Orang yang tidak membawa HP hanya Aya saja sekarang. Kalau kamu punya HP, pagi tadi aku bisa menelponmu.
亜也              :あっ。(MC)
Aya                 : Aa……
マリ              :えっ?亜也?
 Mari               : Heh?? Aya!
(00:13:54- 00:14:10)
Dari percakapan diatas Mari melaggar maksim kuantitas (MKt) dimana seharusnya Mari tidak perlu bertele-tele untuk menyuruh Aya membeli HP dengan berkata di sekolah atau orang-orang di sekitar Mari semuanya menggunakan HP kecuali Aya. Pelanggaran selanjutnya yakni pada Aya dimana Aya tidak menanggapi percakapan Mari karena sibuk mencari sesuatu atau seseorang. Aya melanggar adanya maksim cara (MC) dimana harus adanya timbal balik dalam suatu percakapan.
Pelanggaran maksim lain ada pada percakapan antara Aya dan Haruto.
亜也              :あの。今朝はありがとうございました。おかげさまで
Aya               : Um… Tadi pagi terimaksih. Karena kamu….
遥斗              :お前のせいで 俺まで受けちゃったじゃねえか。(MR)
Haruto             : Gara-gara kamu aku jadi mengikuti tes masuk SMA
亜也              :えっ?
Aya                 : Heh?
耕平              :おい 誰よ?
Kouhei            : Hey, siapa?
遥斗              知らね。(MKl)
Haruto             : Tidak kenal.
(00:14:12- 00:14:26)
Dari percakapan di atas, Aya berniat untuk mengucapkan terimakasih atas batuan Haruto ketika ia terjatuh di tengah jalan. Namun belum sempat Aya menyelesaikan pembicaraannya, Haruto tiba-tiba berbicara keluar dari topic pembicaraan atau tidak adanya relevansi atas apa yang diucapkan Aya sebelumnya. Sehingga pada saat percakapan itu terjadi adanya kebingungan pada Aya akan apa yang dibicarakan oleh Haruto. Dapat disimpulkan dari analisis di atas bahwa Haruto telah melanggar adanya maksim Relevansi (MR). Selain itu Haruto juga melanggar adanya maksim kualitas (MKl) dimana tidak seharusnya dia berkata kepada temannya bahwa dia tidak mengenal Aya, padahal Aya adalah gadis yang barusan ia tolong tadi pagi.
Pelanggaran maksim lain pada percakapan tiap scene one litre of tears episode 01 ada pada scene di bawah ini.
耕平              :何で生物部なんだよ?やっぱ 女に モテるには
サッカーか バンドっしょ。
Kouhei          : Kenapa kamu memilih club biologi? Yang disukai gadis adalah club sepak bola atau band.
遥斗              :別に 女にモテたくねえし。
Haruto            : Aku tidak peduli dengan gadis-gadis.
耕平              :なあ。サッカー部あたりにしない?
Kohei                          : Haaa. Tapi Sepak bola itu lebih cocok.
遥斗              :生物部。
Haruto             : Biologi!
耕平              :何でだよぉ。
Kouhei            : Memangnya kenapa sih?
遥斗              部長が すげえ 美人なんだって。(MKl)
Haruto             : Karena katanya ketuanya sangat cantik.
耕平              :えっ マジ?あっ 同じクラスだよな?
Kouhei            : Ah, masak? Wah…kita sekelaskan?
慶太              :はい、中原慶太です。
Keita               : Iya, saya Keita Nakahara.
耕平              :でっ どこだよ。例の部長は?
Kouhei            : Dimana? Mana Ketua?
吉川              :入部希望者?
Yoshikawa      : Anggota baru?
耕平&遥斗  :はい。
Kouhei & Haruto : Iya
吉川              :あっ、部長の吉川です。ようこそ 生物部へ。(男)
Yoshikawa      : Ah, Saya Ketua, Yoshikawa. Slamat datang di club biologi.
(00:30:26-00:31:07)
Dari percakapan di atas Haruto bercakap-cakap dengan Kouhei. Kouhei berharap Haruto bisa ikut masuk ke club yang slalu banyak diidolakan gadis-gadis di sekolah. Namun Haruto malah memilih club biologi, dengan alasan ketua clubnya terkenal cantik agar Kouhei juga ikut masuk dalam club biologi. Dan ketika Kouhei setuju mengikuti Haruto, ternyata ketua club biologi adalah laki-laki. Lagi-lagi Haruto melanggar maksim kualitas (MKl) dimana dia membohongi temannya mengenai ketua club biologi sehingga Kouhei merasa terjebak dan terpaksa mengikuti club biologi.
Pelanggaran maksim masih terjadi pada percakapan antara Haruto dan Aya yang tak sengaja bertemu di rumah sakit.
亜也              :麻生君 どっか悪いの?
Aya                 : Ada apa dengan Asou-kun?
遥斗             俺もう永くないんだってさ。若いから進行も早いらしくて。(MKl)
Haruto          : Aku tidak akan hidup lama. Aku masih muda tapi sudah dipanggil secepat ini.
亜也              :そんな
Aya                 : Tidak mungkin.
遥斗              (MC)
Haruto           : Bohong.
亜也              :えっ?
Aya                 : Eh?
遥斗              水虫。(MKl)
Haruto             : sakit mizumushi.
亜也              :やだぁ。
Aya                 : Jangan
遥斗              嘘。(MC)
Haruto             : Bohong
亜也              :えっ?
Aya                 : Heh??
看護婦          (呼ぶ)
Suster              : (Memanggil)
遥斗              :どうも。
Haruto             : Halo.
亜也              :知り合いなの?
Aya                 : Kenal?
遥斗              元カノ。(MKl)
Haruto             : Mantan.
亜也              :えっ 随分年上なんだね。
Aya                 : Heh?? Kelihatan lebih tua.
遥斗              嘘。(MC)
Haruto             : Bohong.
亜也              :えっ?
Aya                 : Eh?
(00:34:28 -00:35:10)
Dari percakapan di atas kembali Haruto melakukan empat kali pelanggaran pada maksim kualitas (MKl) dalam satu kali percakapan. Hal itu membuat Aya terlihat bodoh karena begitu mudahnya tertipu akan tuturan Haruto. Dalam percakapan di atas juga Haruto melanggar adanya maksim cara (MC) dalam keseluruhan percakapan, dimana jawaban pertanyaan Aya digunakan sebagai lelucon.
Pelanggaran terakhir pada drama one litre of tears episode 1 ada pada bagian terakhir drama, yakni percakapan antara Dokter dan ibu Aya.
お母さん      :治るんですよね?
Ibu                  : Bisa sembuh kan, dok?
医者                          わたしの知るかぎり完治した例は 一例もありません。(MKt)
Dokter            : Dari Kasus yang saya tahu contoh kasus ini satupun tidak ada yang sembuh.
(00:49:30- 00:49:42)
Dari percakapan di atas, dengan keadaan yang tidak tepat, tidak seharusnya dokter melakukan pelanggaran maksim kuantitas (MKt) dengan menjawab terlalu bertele-tele akan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dokter dapat langsung menjawab penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan. Namun latar belakang pelanggaran maksim kuantitas di atas mungkin sebagai penghalus dan peredam keadaan yang saat itu sangat tegang.
B.     Manfaat adanya maksim dalam percakapan
Dari sedikit analisis di atas pada film one litre of tears episode 1, adanya maksim mampu menjadi tolok ukur akan terjadi komunikasi yang baik antar pengguna bahasa. Jika orang melanggar maksim-maksim yang ada, percakapan yang dia lakukan saat itu bisa jadi menjadi tidak nyaman bagi lawan bicaranya atau dalam situasi percakapannya. Dapat disimpulkan manfaat adanya maksim-maksim dalam asas kerjasama adalah,
1.      Dapat  tolok ukur akan kesuksesan komunikasi antar penutur dan lawan tutur
2.      Dapat menjadi acuan untuk mengenali pribadi lawan tutur masing-masing jika lawan tutur sering melanggar salah satu maksim yang ada. Misalnya pada Haruto yang selalu melanggar adanya maksim kualitas. Sehingga kebanyakan lawan tuturnya lebih mengenal Haruto sebagai tukang bohong.
3.      Dapat mengetahui lawan tutur yang mana yang selalu tidak menggunakan asas kerjasama yang ada sehingga lebih berhati-hati dalam melakukan percakapan dengan lawan tutur yang selalu melanggar asas kerjasama.
BAB IV
Penutup
Kesimpulan
Maksim-maksim adalah acuan untuk para penutur dimana jika ingin melakukan suatu percakapan yang menyenangkan dan nyaman kepada lawan tutur tidak seharusnya melanggar adanya maksim-maksim yang ada. Karena semakin seringnya seorang penutur melanggar banyak maksim dalam asas kerjasama maka efeknya adalah penjauhan secara social kepada masyarakat sekitar atas ketidakkerjasamaan dalam melakukan suatu percakapan atau tindak tutur.

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar