Minggu, 24 April 2011

Shadow in the Miror





Malam ini sangat dingin, dan aku berdiri bersembunyi dibalik dinding gang sempit yang temboknya lumayan tinggi dimana penerangannya kurang dengan membawa dua buah kotak yang lumayan besar dan berat dikedua tangan kanan dan kiriku, aku harus membawanya dengan hati-hati karena di dalam kotak ini terdapat suatu benda yang mudah rusak. Aku tak ingin sesuatu di dalam kotak ini hacur. Benda ini sangat penting saat itu.
*************
“ Kamu bikin roti itu buat siapa sih”
“ Buat temenku ma, dia besok ulang tahun dan aku yang diwajibin bikin kue buat acara ulang tahunnya dia.” Ujarku sibuk mengaduk adonan yang sudah mengembang dan tercampur oleh tepung dengan hati-hati. Aku tak mau roti itu menjadi roti ulang tahun yang bantat.
“ Nah bahan-bahan semua ini kamu beli pake uangmu?”
“ Iya ma, memangnya kenapa? Aku kan gak punya apa-apa buat ku kasih ke temenku itu. Yah sebagai gantinya hadiah, ku kasih roti ini. Mama daripada diem disitu terus kenapa gak bantuin aku? Aku ini bikin dua kue, bantu bikini kue yang satunya, ma”
“ Loh kenapa mama jadi ikut-ikut gini? Ini kan hadiah kamu.”
“ Oh iya sih…tapi gak cukup waktu kalo aku kerjain sendiri ma”
“ Iya, iya sini mama bantu.”

ESOKNYA
“Gimana dah siap belum”, ku baca sms temanku setelah aku selesai mandi. Jam sudah menunjukkan lima sore, kurang dua jam lagi segala persiapan harus selesai. “belum, ni baru selesai mandi, ntar kita kesana naik apa? Gak mungkin donk naik motor bonceng bertiga”. Lekas kubaca lagi satu sms yang barusan masuk. “beib, qm knp??drtd d hub.koq g bsa”, hahaha kena malingnya!!!ujarku dalam hati, daritadi seseorang yang berulang tahun ini sudah ku kerjai habis-habisan. Aku merencanakannya sudah beberapa minggu sebelumnya. Ku bilang kalau hari ini aku tidak bisa keluar dengannya merayakan ulang tahunnya karena aku harus ke Surabaya. Dan dia menerimanya, aku merasa kalau dia menerima dengan perasaan tidak ikhlas.
“ Ma!!mama!! roti cokelatnya koq belum beku-beku juga yah? Padahal udah ku masukin ke dalam kulkas” ujarku mulai panik melihat persiapan ku yang sama sekali belum bisa dibilang 100% padahal kurang dua jam lagi.
“ Terang aja belum beku, kan kamu siram itu cokelatnya 15 menit yang lalu.” teriak mama di balik kamar. Mama beristirahat setelah sekian sibuknya tadi membantuku membuat satu kue yang belum sempat ku buat. Dan langsung ku hias ketika baru keluar dari oven. Tentu saja krimnya langsung meleleh terkena panasnya roti. Dan saking keburu waktunya, tanpa menunggu dingin, roti panas yang masih dalam Loyang itu langsung kumasukkan ke dalam lemari pendingin begitu saja.
“Ma ini di bungkus pake apa ma?!!” teriakku dari balik dapur.
“ Ya kardus sayang.” ujar mama masih terbaring dalam kamar.
“ Kardusnya dimana ma??!” teriakku lagi sambil mencoba mencari di gudang, siapa tahu ada kardus kulkas yang tidak terpakai jadi langsung itu dua roti masuk kedalam kardus. Biar bawanya gak susah-susah, pikirku.
“Eh bentar deh. Kayaknya mama gak ada kardus cake. Coba deh kamu beli di pak Yusuf” kata mama tiba-tiba.
“ Yah mama, ini dah gak cukup waktu nih ma…”
“ Terus mau gimana lagi sayang, udah lari sebentar aja apa sulitnya?”
Lekas aku keluar rumah, aku tidak suka sesuatu yang sudah direncana kurang sedikitpun. Aku ingin memberitahu kepada orang-orang bahwa yang berulag tahun ini adalah orang yang sangat special untukku. Maka bagiku dia harus mendapatkan hal yang berharga juga.
Sambil berlari aku mulai mendaftar kembali barang-barang apa saja yang belum lengkap. Roti, cek! Peralatan makannya, cek! Lilin, cek! Dan hadiah kecil lain. Tiba-tiba kembali teringat kejadian esok hari di sekolah.
“Di sini nih Sad…kasih pesan atau apa kek, selamat atau ttd lu kek, terserah” bujukku pada seorang temanku, Risad. Dia masih merasa aneh dan heran. Mungkin dalam hatinya dia berkata kalau aku seorang gadis aneh yang perlu dikasihani. Meminta tanda tangan dan tulisan ucapan di atas tissue apa tidak ada kertas satupun?
“ Ni udah. Sekali-kali kalo lu ngajak stress jangan ngajak gue yeh” ujarnya sambil memberikan selembar tissue yang sudah berisi tanda tangannya.
“ Thanks yah..em sapa lagi yah…putri, lisda, alien em…lain-lainnya udah. F4 juga udah…sip deh tinggal diamplopin..”
Segalanya benar-benar sudah kupersiapkan. Meskipun harus ku korbankan hal lain, harus!..aku harus memberikan hadiah ini untuknya. Karena aku yakin waktunya benar-benar tidak cukup lagi. Sesampainya dirumah aku membungkus roti itu dengan rapi. Cake bersiram cokelat putih dengan tulisan cokelat di atasnya selamat ulang tahun. Kemudian aku merapikan diriku sendiri. Rambut yang sudah tidak karuan akibat berlari-lari tadi. Memakai dres putih bergaris biru. Menguncir rambutku yang panjang ini dengan satu ikatan saja dan memberikan bandana di atasnya sebagai pemanis.
“ Yah siap sudah… hari ini akan sangat sulit.. semoga aku mampu melewatinya”, batinku.
“ Ma, bagaimana penampilanku?” Tanya ku pada mama yang masih tidur-tiduran di kamar.
“ Bagus, tapi tunggu deh, rambut kamu kenapa masih berantakan?? Memangnya kamu nggak bercermin? Mama pikir-pikir sebulan ini penampilanmu selalu berantakan apa kamu tidak pernah menghadap cermin?” Tanya mama sambil menyisir rambutku.
“em..bercermin koq ma!! Iya ma, mataku mungkin ada sedikit gangguan akhir-akhir ini. Jadi sulit melihat sesuatu” kataku..
***************
*Flashback*
Matahari memanasi kulitku dengan sangat mudahnya, berjalan ke menuju SMA siang begini sangat menyebalkan, bahkan aku tidak ada waktu untuk mencoba mempercantik diri, karena percuma sesampai di SMApun wajahku akan penuh dengan peluh-peluh. Hai aku Nay, anak sulung dari empat bersaudara. Dan sejak liburan semester awal ini ketika ku di kelas dua SMA. Aku mendapat sesuatu yang belum pernah ku harapkan sebelumnya. Yaitu seseorang dan sebuah kelebihan. Entah aku harus bilang ini sebuah kelebihan atau suatu petaka. Sedangkan seseorang itu adalah seorang cowok yang usianya lebih tua di atasku dua tahun. Reza namanya, dia benar-benar seseorang yang sangat baik. Perhatian dan sangat mencintaiku. Walaupun sebenarnya orang tuaku masih belum memperbolehkan aku berhubungan dengan seseorang. Atau bahasa gaulnya berpacaran tapi entah kenapa saat aku mengambil keputusan mengenalkan dia ke mama papa, dengan mudahnya dia di terima begitu saja. Mungkin itu kado untukku ketika ku mulai beranjak 17 tahun, maka orang tuaku mulai memperbolehkanku dekat dengan seseorang. Tapi tetap saja naluri orang tua, walaupun diperbolehkan dekat tapi tidak boleh mengakui kalau itu berpacaran. Mereka hanya memperbolehkan aku dan kak Reza berteman. Tapi tak apa, asalkan kami tahu batasan itu yang terbaik..aku tidak akan mengecewakan kepercayaan mama papa. Saat ulang tahunku tahun lalu masih ku ingat kak Reza mendatangi rumahku dan membawakan sebuah boneka. Boneka marsupilami yang bisa disebut boneka yang aneh..karena marsupilami itu memiliki pusar yang lucu. Dan aku selalu tertawa tiap melihat pusarnya hingga saat ini. Belum lagi sesuatu yang ia bawa di balik boneka marsupilami.
“ Maaf yah aku belum bisa ngasih apa-apa” ucapnya terlihat malu-malu dan tiap kali melihat ekspresi malu-malunya itu aku slalu ingin tertawa.
“ Iyah gak apa-apa, kakak dah dateng ke sini ku juga udah seneng.” Ucapku apa adanya. Kemudian dia mengeluarkan boneka marsupilami itu. Seketika aku memang terkejut, selain terkejut karena aku tidak tahu kalau ternyata dia membawa sesuatu dibalik punggungnya, aku juga terkejut karena dia membawa boneka. Sebenarnya saat itu aku kurang menyukai boneka. Tapi apa yang telah ia bawa aku coba untuk terima saja, ini adalah hadiah pertama darinya. Jadi aku tidak boleh mengecawakannya bukan?
“ Wah makasih…ternyata boneka yah?? Koleksi boneka ku juga belum begitu banyak..ini pasti akan jadi koleksiku..terima kasih yah…” ujarku senang. Aku benar-benar senang saat itu mendapatkan hadiah darinya. Walaupun itu bukan salah satu benda yang ku sukai tapi ku sangat senang.
“ Iyah sama-sama dijaga yah bonekanya” ujarnya tulus.
“Iyah…” saat itu aku berjanji pada diriku, siapapun dia, bagaimanapun sifatnya aku akan mencoba menjalaninya.
Ketika dia sudah pulang, papa mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku. Naluri seorang ayah pada anak gadisnya pasti seperti itu. Apalagi papa adalah tipe orang pencemburu, pasti tahulah beliau tidak akan mudah memberikan lampu hijau pada siapapun yang mendekati anak gadisnya. Daripada diinterogasi lebih dalam lagi, lekas saja boneka pemberian kak Reza aku sembunyikan di balik punggung dan sedikit demi sedikit berjalan mengendap-endap menghadap papa yang sedang asyik menonton berita.
“ Fiuh, akhirnya nggak ketahuan, kalo ketahuan bisa berabe, kak Reza ke sini aja dah tanya sana sini, gimana papa tahu kalo ku dapat kado dari dia juga.” Gumamku sambil memandangi boneka marsupilami yang lidahnya menjulur seolah menghinaku. Sekali ku lihat pusarnya, tetap saja aku ingin tersenyum melihat bentuk pusarnya itu. Kulihat sisi belakangnya, ekornya yang panjang melingkar-lingkar membuat bentuk pegas, dan ternyata keanehan tidak berhenti di situ saja. Punggung boneka ini terlihat aneh, setelah di amati dengan seksama ternyata punggung boneka ini bisa dibuka. Jadi lekas saja ku buka, mungkin didalamnya terdapat tempat batere sehingga marsupilami ini bisa mengeluarkan suara. Saat kubuka ternyata memang berisi kotak, tapi itu bukan kotak batere, kotaknya lebih kecil daripada kotak batere, kotak yang mungil, kucoba mencari kait pembukanya. Dan ternyata kota itu tidak tersambung kabel samasekali jadi bisa diambil begitu saja. Lekas kubuka kotak yang berwarna merah itu yang hampir serupa dengan kotak cincin, dan sejujurnya waktu itu aku berharap itu adalah sebuah cincin, tapi ketika kubuka di dalam kotak itu ada sebuah karet kuncir, karet kuncir yang berhias wajah babi pink yang imut. Kemudian ku baca kertas kecil yang berada di dalamnya juga.
Selamat hari ulang tahun sayang, benda ini gak sengaja ku temukan waktu aku jalan-jalan di Malang kemarin. Maaf ya hanya benda yang sederhana, semoga kamu suka. Love u.. –Reza
Wah ternyata waktu dia ke Malang kemarin masih ingat aku yah..tak kusangka, karena pada waktu itu ku pikir dia sangat sibuk dan aku sempat marah padanya. Itu pertama kalinya aku di tinggalkan dia pergi tanpa mengajakku. Sebenarnya bukan karena maunya dia tidak mengajakku, tapi karena kendaraannya hanya satu, dan dia harus membonceng temannya sehingga terpaksa aku tidak bisa ikut, dan juga waktu itu adalah hari masuk sekolah. Tidak mungkin kan ku membolos??
Setelah malam ulang tahunku, kami mencoba bertemu kembali. Ini kali pertamaku berkencan denga dia. Dia mengajakku naik sepeda motor berkeliling pedesaan di pagi hari. Dan tentu saja aku mau, ini adalah kesempatanku untuk semakin dekat dengannya.
Suasana pedesaan di tempat kami memang sangat indah, apalagi pagi hari. Persawahan penduduk yang membentang luas di kanan dan kiri sisi jalan beraspal yang sempit, dengan pepohonan mahoni yang tumbuh menjulang menjadikan suasana semakin rindang bagi pengguna jalan di setiap sisi jalannya membentuk terowongan pepohonan yang sangat sejuk. Suasananya sangat indah ketika kami berdua melewati pepohonan itu dengan berkendaraan motor. Melihat kanan dan kiri dimana pak dan bu tani bekerja di pagi hari yang masih berembun. Serta tak lupa sesekali menghirup udara pagi yang masih sejuk sungguh sangat menenangkan. Aku mencoba mengangkat kedua tanganku ke atas, merasakan dinginnya pagi dan kembali menghirup udara dingin itu dengan perlahan.
“ Nay,”
“ Hum..” sautku ketika kak Reza memanggilku dari balik punggung tegapnya.
“ Aku boleh minta sesuatu gak?” tanyanya sambil ragu-ragu dan masih mencoba berkonsentrasi mengendarai motor smash birunya.
“ Minta apa kak?” tanyaku penasaran.
Kemudian kak Reza tidak menjawab, dia lekas melepaskan tangan kirinya dari stang motornya, dan menunjuk pipi kanannya dengan mencoba menyembunyikan ekspresi malunya. Sebenarnya aku mengerti maksudnya. Tapi aku masih ragu-ragu, ini masih di jalan dan aku belum pernah mencium seseorangpun (kecuali adik-adik kecilku). Rasanya jantungku ingin keluar dari tempatnya, berdetak begitu cepat, dan semakin cepat. Hembusan nafasku yang semula teratur kini bisa kurasakan semakin tidak karuan. Pikiran-pikiranku menerawang, apa jadinya kalau aku menciumnya atau tidak menciumnya. Yup sudah kuputuskan!! Perlahan aku majukan posisi dudukku sedikit condong kedepan, dengan kedua tanganku yang berpegangan pada kursi jok kujadikan penyeimbang agar tidak terjatuh. Lalu ku dekatkankan wajahku ke sisi wajah kanannya sehingga ku bisa melihat seluruh bagian wajah kanannya dengan jelas. Pipinya, kupingnya, mata kanannya semakin membuat detak jantungku menjadi tidak karuan. Ku gunakan ujung hidungku untuk menyentuh pipinya, dan dengan cepat kutarik kembali tubuhku ke posisi duduk yang seharusnya, karena aku merasa laju motor sedikit berbelok. Benar saja motornya hampir menabrak pohon pisag kecil di sisi jalan. Menyadari kejadian barusan, kami berdua tidak berkata apa-apa, namun beberapa detik kemuadia menyusul ledakan tawa nyaring darinya dan akupun iku tertawa.
“ Nay, maaf yah, hampir aja nabrak pohon pisang” ucapnya masih dengan tertawa.
“ Iya kak, gak papa. Ini pengalaman pertamaku cium cowok dan lucu pula..hahahaha” ujarku masih dengan tertawa juga. Akupun pulang dengan perasaan yang semakin bertambah padanya. Kak Reza yang lucu, aku sayang padanya.
Kami sering sekali berkomunikasi lewat telepon dan sms, itu kami lakuakan agar kami bisa tahu kegiatan kami masing-masing. Bagaimana juga aku seorang pelajar yang sangat di sibukkan dengan tugas, kami tidak akan ketinggalan untuk saling memberi kabar tentang apa yang kami lakukan sehari-hari, sudah makan atau belum, sudah sholat atau belum, terus dan terus berkomunikasi, setiap malam kami selalu saling menelepon karena profider kami mengadakan promo bonus telpon malam sepuasnya, maka karena itu kami sering begadang malam hanya untuk bercerita satu sama lain. Pernah suatu ketika saat aku menunggu telfon darinya, tiba-tiba dia meng-smsku. Dan isi smsnya sepertinya tidak dia tujukan padaku, aku yakin sms itu dia tujukan pada cewek yang pernah dekat dengannya dulu. Isinya kalau dia akan tidur dan berterimakasih telah menemaninya menelpon malam itu, dan yang membuat aku semakin kaget, dia masih menggunakan panggilan sayang ke cewek itu. Bagaimanapun aku tidak tahu bagaimana dia bisa begitu. Padahal kami baru saja jadian, padahal aku baru belajar untuk menyukainya dengan tulus, aku lekas membalas smsnya, dan hanya bisa menuliskan kalau dia salah kirim sms. Walaupun kami baru saja jadian, tapi sakitnya mengetahui orang yang kita suka masih menghubungi wanita lain yang pernah menemaninya, sungguh sangat sulit di bayangkan, sakit sekali. Rasanya cacing dalam perutku bergeliat dengan hebat, dan aku mulai sulit untuk bernafas dengan teratur. Setelah itu kak Reza terus dan terus mencoba untuk menghubungi ku, namun rasanya sebal saja, aku merasa malas dengan orang yang seperti itu. Dan aku putuskan kalau kita takkan berhubungan lagi. Itulahlah kata putus yang aku keluarkan pertama kali, padahal usia jadian kami masih 3 minggu. Aku benar-benar kecewa padanya, dan semua itu yang mengawali ku untuk tidak percaya kepadanya. Semenjak kejadian itu, selama dua minggu kami tidak pernah berkomunikasi satu sama lain.
Suatu malam aku diajak oleh Lisda temanku untuk pergi bersenang-senang. Aku tahu aku sangat pusing saat itu, karena tugas dari sekolah dan sesuatu yang terjadi belakangan ini. Banyak keanehan yang aku alami akhir-akhir itu. Tiga hari sebelum Lisda mengajakku pergi, saat aku bercermin aku melihat diriku sendiri. Tentu saja tidak ada yang aneh, saat itu sedang bersisir dan yang membuat aku merasa aneh dengan cermin itu adalah dahiku. Aku melihat dahiku mengeluarkan cairan merah serupa darah. Entah itu memang darah atau apa aku tak mengerti, saat aku mencoba menutup mata dan membuka mataku lagi, bayangan di cermin kembali menjadi bayangan biasa. Bayangan yang sama dan simetris.

1 komentar:

Kebencian ku pada kalian!!

  Aku sudah merasa rindu saat-saat bersama mereka. 40 Orang dari 23 Negara kalau saya tidak salah ingat. Dengan latar belakang pekerjaan yan...