bikin blog agar di kenal orang memang sulit banget yah..sudah googling ke sana-sini cari tips and trik agar blog banyak pengunungnya, and the result..saya masih bingung (nging-nguing)..
kali ini saya akan share foto saya after berdandan dan berhijab..
masih jelek sih,atau pada dasarnya modelnya yang jelek, pemirsa harap maklum..tapi ilmunya yang bisa di lihat..hehehe
sementara belum ada logo, saya masih belajar bikin logo pakai photoshop dan blum bisa..hahaha
LET'S MAKE UR LIFE COLOURFUL (Don't forget to comment after read this content ^-^)
Kamis, 23 Agustus 2012
Rabu, 22 Agustus 2012
Apa itu "HIJAB" ?
Beberapa atau bahkan saat ini banyak muslimah di Indonesia pada tahun-tahun terakhir sedang menggandrungi style busana muslim teranyar yang disebut dengan gaya busana "HIJAB".
Banyak masyarakat awam yang belum mengetahui apa hijab itu sebenarnya, dan apa perbedaan gaya hijab dan busana muslim pada umumnya.
Sebenarnya trend hijab sudah lama berkembag di lingkup muslimah Indonesia, dimana gaya berhijab identik dengan busana yang longgar dan tidak menunjukkan lekuk tubuh..(itu pasti). Namun perbedaannya pada tahun-tahun terakhir para stylish muslimah sedang gandrung menabrak warna serta memberikan motif-motif unik pada kain busana bahkan scraft atau jilbabnya. Bahkan saat ini banyak yang menjual dan berlomba-lomba mendesain gaya busana muslimah yang terunik dan berbeda dari yang lain. Bentuk jilbab yang aneh dan unik juga saat ini dijual di pasaran.
Mengutip dari blog yang di post oleh Rahmi Hardyastuti dengan alamat http://hijabers.blog.unissula.ac.id/2012/01/19/apa-itu-hijab/ menyatakan bahwa:
Hijab adalah salah satu bentuk pakaian yang disyariatkan oleh oleh agama islam bagi para muslimah. Sebagaimana yang tertera di Al-Qur’an:
….katakanlah kepada wanita-wanita beriman: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka, kecuali yang lazim tampak. Dan hendaklah menutupkan kudung-kudung (kerudung) mereka pada mereka pada dada mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka kecuali pada suami-suami mereka. (An-Nur 31)
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, putri-putrimu dan isteri-isteri kaum mukminin, supaya mereka menutup baju kurung mereka ke seluruh tubuh mereka. Demikian itu adalah untuk lebih dikenal, sehingga mereka tidak diganggu“. (Al-Ahzab 59).
Bahkan dalam Al-Qur'an sendiri para muslimah telah diatur bagaimaa cara berpakainnya, oleh karena itu para muslimah tidak perlu takut untuk bergaya hijab, karena hijab itu sendiri telah direstui dan diperbolehkan dalam gaya busana muslimah karena identik dengan pakaian yang tidak menonjolkan bentuk tubuh. Gaya hijab ini juga sudah dipakai oleh para muslimah luar negeri yakni di daerah Turki, dan daerah sekitarnya.
sekilas saya akan menampilan gaya busana hijab di Indonesia, mungkin akan menjadi inspirasi para pembaca dalam bergaya busana muslimah..yang terpenting gunakanlah baju yang membuat anda nyaman dalam berpenampilan dan jadilah diri sendiri, Insyaallah anda akan berpenampilan baik dimata yang memandang.
Banyak masyarakat awam yang belum mengetahui apa hijab itu sebenarnya, dan apa perbedaan gaya hijab dan busana muslim pada umumnya.
Sebenarnya trend hijab sudah lama berkembag di lingkup muslimah Indonesia, dimana gaya berhijab identik dengan busana yang longgar dan tidak menunjukkan lekuk tubuh..(itu pasti). Namun perbedaannya pada tahun-tahun terakhir para stylish muslimah sedang gandrung menabrak warna serta memberikan motif-motif unik pada kain busana bahkan scraft atau jilbabnya. Bahkan saat ini banyak yang menjual dan berlomba-lomba mendesain gaya busana muslimah yang terunik dan berbeda dari yang lain. Bentuk jilbab yang aneh dan unik juga saat ini dijual di pasaran.
Mengutip dari blog yang di post oleh Rahmi Hardyastuti dengan alamat http://hijabers.blog.unissula.ac.id/2012/01/19/apa-itu-hijab/ menyatakan bahwa:
Hijab adalah salah satu bentuk pakaian yang disyariatkan oleh oleh agama islam bagi para muslimah. Sebagaimana yang tertera di Al-Qur’an:
….katakanlah kepada wanita-wanita beriman: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka, kecuali yang lazim tampak. Dan hendaklah menutupkan kudung-kudung (kerudung) mereka pada mereka pada dada mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka kecuali pada suami-suami mereka. (An-Nur 31)
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, putri-putrimu dan isteri-isteri kaum mukminin, supaya mereka menutup baju kurung mereka ke seluruh tubuh mereka. Demikian itu adalah untuk lebih dikenal, sehingga mereka tidak diganggu“. (Al-Ahzab 59).
Bahkan dalam Al-Qur'an sendiri para muslimah telah diatur bagaimaa cara berpakainnya, oleh karena itu para muslimah tidak perlu takut untuk bergaya hijab, karena hijab itu sendiri telah direstui dan diperbolehkan dalam gaya busana muslimah karena identik dengan pakaian yang tidak menonjolkan bentuk tubuh. Gaya hijab ini juga sudah dipakai oleh para muslimah luar negeri yakni di daerah Turki, dan daerah sekitarnya.
sekilas saya akan menampilan gaya busana hijab di Indonesia, mungkin akan menjadi inspirasi para pembaca dalam bergaya busana muslimah..yang terpenting gunakanlah baju yang membuat anda nyaman dalam berpenampilan dan jadilah diri sendiri, Insyaallah anda akan berpenampilan baik dimata yang memandang.
Analisis Keambiguitasan Informasi Makna Kalimat 「雨が降りそうだ」dalam Sudut Pandang Teori Kognitif Pragmatif
BAB I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Keambiguitasan dalam
dunia bahasa sering terjadi dikarenakan penggunaan bahasa yang kurang tepat.
Relasi makna yang berlangsung tidak berlangsung dengan baik sehingga
keambiguitasan muncul dari pernyataan yang ditutur oleh pengguna bahasa. Selain
itu pola kognitif seseorang sangat berhubungan dengan proses perkembangan
bahasa yang dimiliki secara individu. Makin banyak perbendaharaan makna, serta kemampuan
memahami struktur penggunaaan suatu bahasa baik bahasa asing atau bahasa ibu
dengan baik dan mampunya mengapresiasikan informasi makna yang benar mampu
mengurangi terjadi keambiguitasan dalam penggunaan bahasa.
Ambiguitas dalam segi
semantik itu sendiri hampir sama dengan homonimi dan polisemi, namun yang
membedakan ketiganya adalah objek penelitian atau analisisnya. Pada homonimi
dan polisemi lebih condong menganalisis pada struktur kata dan frase. Sedangkan
pada ketaksaan atau ambiguitas lebih terfokus pada suatu konteks kalimat yag
memiliki arti yang ganda atau arti yang kurang dapat dipahami. Dalam bahasa
Jepang jika berhadapan langsung dengan kegiatan percakapan bahasa lisan maka
sering ditemui makna yang ganda atau sulit dipahami. Memaknai suatu konteks
kalimat bagi semua bahasa memiliki banyak cara serta banyaknya teori-teori yang
mendukung menggunaan apresiasi makna tersebut.
Dengan adanya makalah
ini, penulis berharap mampu memahami penggunaan teori kognitif dalam analisis
keambiguitasan.
1.2
Rumusan masalah
- Apa yang dimaksud dengan Informasi makna?
- Apa hubungan Teori Kognitif dengan ketaksaan?
- Apakah pada kalimat 「雨が降りそうだ」terjadi suatu keambiguitasan makna?
- Pada pola kalimat 「雨が降りそうだ」mengandung makna apa saja?
1.3
Tujuan
- Agar dapat memahami maksud Informasi makna.
- Agar dapat memahami hubungan Teori Kognitif dengan ketaksaan.
- Agar dapat memahami adanya keambiguitasan pada kalimat 「雨が降りそうだ」.
- Agar dapat memahami adanya informasi makna apa saja pada kalimat 「雨が降りそうだ」.
BAB II
Kerangka Teori
2.1 Ilmu Makna
Makna merupakan aspek penting dalam sebuah bahasa karena dengan makna
maka sebuah komunikasi dapat terjadi dengan lancar dan saling dimengerti.
Tetapi seandainya para pengguna bahasa dalam bertutur satu sama lain tidak
saling mengerti makna yang ada dalam tuturannya maka tidak mungkin tuturan
berbahasa bisa berjalan secara komunikatif. Di sini dituntut antara penutur dan
lawan tuturnya harus saling mengerti makna bahasa yang mereka tuturkan.
Aspek makna terdiri atas empat, yaitu pengertian, perasaan, nada, dan
tujuan. Keempat aspek makna tersebut dapat dipertimbangkan melalui pemahaman
makna dalam proses komunikasi sebuah tuturan. Makna pengertian dapat kita
terapkan di dalam komunikasi sehari-hari yang melibatkan tema, sedangkan makna
perasaan, nada, dan tujuan dapat kita pertimbangkan melalui penggunaan bahasa,
baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.
A. Jenis
Makna
Para ahli telah mengemukakan berbagai jenis makna dan yang akan
diuraikan di sini beberapa jenis makna:
1. Makna
Sempit
Makna sempit (narrowed
meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran. Makna yang
asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield mengemukakan
adanya makna sempit dan makna luas di dalam perubahan makna ujuaran.
Makana luas dapat menyempit, atau suatu kata yang asalnya memiliki makna
luas(genetik) dapat menjadi memiliki makna sempit (spesifik), karena dibatasi.
2.Makna luas
Makna luas (qidened meaning atau extended meaning di dalam bahasa
inggris) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang
diperkirakan. Kaa-kata yang berkonsep memiliki makna luas dapat muncul dari
makna yang sempit.
Kata –kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan
gagasan atau ide yang umum, sedangkan makna sempit adalah kata-kata yang
bermakna khusus atau kata-kata yang bermakna luas dengan unsure pembatas. Kata-kata
bermakna sempit digunakan untuk menyatakan seluk-beluk atau rincian gagasan
(ide) yang bersifat umum.
3.Makna Kognitif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna
yang menujukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan
(bandingkanlah dengan makna konotatif dan emotif). Maka kognif adalah makna
lugas, makna apa adanya. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang
menujuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna
kognitifnya khusus dan termasuk pula partikel yang memiliki makna relasional. Makna
kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan.
4.Makna Konotatif dan Emotif
Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat
makna kognitif), ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna
lain. Makna konotatif atau emotif sangat luas
dan tidak dapat diberikan secara tepat.
Makna kognitif dibedakan dari makna konotatf dan emotif berdasarkan
hubungannya, yakni hubungan antara kata dengan acuanya atau hubungan kata
dengan denotasinya (hubungan antara kata (ungkapan) dengan orang, tempat,
sifat, proses, dan kegiatan luar bahasa (denotata kata)); dan hubungan aktara
kata (uangkapan) dengan ciri-ciri tertentu (disebut konotasi kata (ungkapan)
atai sifat emotif kata (ungkapan).
Makna konotatif dan emotif dapat bersifat incidental. Makna emotif
adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan
pembaca) ke arah yang positif. Makna ini berbeda dengan makna kognitif
(denotatif) yng menujukkan adanya hubungan atara dunia konsep (reference)
dengan kenyataan, makna emotif menujuk sesuatu yang lain yang tidak sepenuhnya
sama dengan yang terdapat dalam dunia kenyataan.
5.Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambing benda,
peristiwa,dll; makna leksikal ini dimiliki unsure-unsur bahasa secara
tersensiri, lepas dari konteks. Semua makna ( baik bentuk dasar maupun bentuk
tuturan) yang ada dalam disebut makna leksikal.
Makna gramatiakal adalah makna yang menyangkut hubungan antra bahasa,
atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam
kalimat. Di dalam sematik makna gramatikal debedakan dari makna leksikal. Dan
masih banyak jenis makna lain yang tidak dapat dijelaskan karena keterbatasan
ruang.
2.2 Ambiguitas
Ketaksaan atau ambiguitas merupakan bagian dari makna bahasa yang
terdapat dalam sebuah tuturan atau tulisan. Ketaksaan atau ambiguitas dapat
terjadi pada semua tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, maupun
sebuah wacana. Ketaksaan atau ambiugitas sering digunakan oleh para penutur
dengan maksud-maksud tertentu, yang kadang-kadang sengaja dia buat untuk
menyembunyikan maksud tuturannya yang sebenarnya, ini biasanya untuk menyindir
seseorang namun dengan perkataan yang tidak dengan sesungguhnya.
Dalam bahasa lisan penafsiran ganda ini mungkin tidak akan terjadi
karena struktur gramatikal itu dibantu oleh unsure itonitas. Tetapi di dalam
bahasa tulis penafsiran ganda ini dapat saja terjadi jika penanda-penanda ejaan
tidak lengkap diberikan.
BAB III
Pembahasan
3.1
Informasi Makna
Pemaknaan dalam pembahasaan memiliki macam-macam jenis pemaknaan, jika
suatu kata, frase atau kalimat sulit untuk dimaknai atau memiliki lebih dari
satu makna maka jika itu terjadi dalam satu bentuk kata maka menyangkut dalam
sinonimi atau polisemi, sedangkan untuk kegandaan makna dalam suatu pola
kalimat maka dapat dimasukkan kedalam bentuk ketaksaan atau ambiguitas.
Konteks kalimat「雨が降りそうだ」memunculkan
ambiguitas yakni antara makna sebenarnya dari konteks kalimat tersebut dan
konsep munculnya kalimat tersebut. Ambiguitas itu sendiri sering digunakan oleh
pengguna bahasa dalam konteks kalimat menyindir, atau sering juga munculnya
keambiguitasan saat penggunaan notasi dalam bahasa lisan yang salah sehingga
terjadinya keambiguitasan dalam suatu kalimat lisan tersebut. Jika
keambiguitasan itu terjadi dalam bahasa tulisan, umumnya dapat terjadi jika
kurangnya tanda baca atau salahnya menberian tanda baca pada satu bentuk pola kalimat.
Dalam
konteks kalimat「雨が降りそうだ」meskipun sebuah pola kalimat yang sederhana namun
mampu memunculkan suatu keambiguitasan. Suatu pernyataan yang terbentuk dari
satu deretan kata dan frase yang membentuk pola kalimat mampu mengandung
informasi makna. Informasi makna yang terkandung dalam kalimat jika mampu
dicermati oleh lawan bicara menyatakan bahwa kalimat tersebut tidak mengalami
ambiguitas makna, namun jika kalimat tersebut memiliki lebih dari satu
informasi makna maka dapat di simpulkan kalimat atau pernyataan tersebut
mengalami keambiguitasan. Memaknai
kalimat yang mengalami keambiguitasan dapat dengan cara mengambil sudat pandang
jenis-jenis pemaknaan. Telah diketahui bahwa para ahli telah membagi-bagi jenis-jenis
pemaknaan. Dari penjelasan ini penulis akan menganalisis informasi makna ganda
yang terdapat pada pernyataan kalimat「雨が降りそうだ」.
3.2 Analisis
Teori kognitif pragmatik menyatakan jika suatu kalimat mampu mengandung lebih dari satu makna dimana makna yang sesungguhnya yakni makna yang mengandung makna sebenarnya (denotatif) sedangkan makna sampingan umumnya adalah mengandung makna bukan sebenarnya (konotatif). Pada kalimat「雨が降りそうだ」dapat diamati memiliki dua informasi makna ganda. Seperti menurut penjelasan dari S U B A N D I pada artikel “Ambiguitas Informasi Makna Ungkapan Penolakan Bahasa Jepang (Kajian Kognitif Pragmatik Jepang)”, bahwa Dalam pengembangannya pemaknaan pada kognitif semantik mencakup pada skema makna yang ada di dalam pikiran manusia Lecoff (1980). Artinya, untuk menemukan informasi makna bahasa tidak dapat hanya dilihat dari unsur struktur luarnya saja, tetapi harus juga dikembalikan kepada ide yang melatar belakanginya. Pada kalimat「雨が降りそうだ」 ini mengandung dua makna ganda dimana makna tersebut masing-masing bermaksud makna denotatif dan abtraktif. Yang dimaksud dengan makna denotatif seperti pada penjelasan di bawah ini.
Penjelasan:
雨が降りそうだ。(Hari ini kelihatannya akan hujan)
Dapat dilihat makna
yang sesungguhnya dalam bahasa Indonesia yakni kelihatannya akan turun hujan.
Pembicara menggunakan pola kalimat ini yakni dalam situasi melihat cuaca dan
mengetahui langit sedang berawan dan mengutarakan kalimat tersebut berguna
untuk meberikan informasi kepada lawan bicara jika sepertinya akan turun hujan.
Itulah yang dimaksud makna denotatif atau makna sebenarnya. Dalam jenis makna,
informasi makna di atas termasuk jenis makna kognitif. Namun dalam teori
kognitif selain mengedepankan makna sebenarnya teori ini juga mengambil sudut
pandang ide yang melatar belakangi adanya kalimat itu muncul atau dapat juga
disebut makna abstrak yang tak terlihat dalam konteks kalimat.
Elemen
penting dalam sudut pandang teori kognitif ini salah satunya yakni “Menggunakan sesuatu konsep yang
abstrak (peribahasa)” yang dimaksud dengan konsep abstrak ini dapat dijelaskan
dan ditemui pada kalimat 「雨が降りそうだ」.
Penjelasan:
雨が降りそうだ。 (Hari ini kelihatannya akan hujan) M1
Makna abtrak à (hari ini kita tidak
jadi pergi)
M2
Bagaimana
munculnya makna abtrak tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut,
“Hari ini kelihatannya
akan hujan” à makna pokok atau makna inti.
Sedangkan
keadaan cuaca yang mendung dapat melatarbelakangi penutur memunculkan makna
abtrak dalam kalimat tersebut. Jika kalimat intinya lebih mendominankan makna
pertama (M1) maka (M2) tidak begitu akan terlihat karena hanya tersirat saja. Jika
pada pola kalimat di atas lebih mengedepankan makna kedua (M2) maka dominan
untuk dapat memunculkan ide bahwa hari ini tidak jadi pergi karena keadaan
mendung. Pada (M2) ini lawan bicara diharapkan dapat mengedepankan konsep
pemahaman lawan penutur agar dapat memaknai konteks kalimat tersebut dengan
baik.
Setelah
dapat dipahami sudut pandang teori kognitif dalam konteks kalimat 「雨が降りそうだ」.
Dapat di analisis kembali pada konteks kalimat 『お金がたりなそうだ』/ sepertinya uang saya tidak cukup.
Analisis:
(M1)à makna denotatif bahwa
penutur tidak memiliki cukup uang untuk membeli sesuatu.
(M2)àmakna abtrak bahwa
penutur berharap lawan bicara meminjamkan uang untuk membeli suatu barang
karena tidak cukup uang untuk membeli suatu barang.
Ide
yang melatarbelakangi munculnya konsep pada (M2) yakni karena tidak cukupnya
uang dimiliki maka penutur memunculkan ide abtrak pada kalimatnya agar lawannya
dapat meminjamkan uangnya. Dengan penggunaan teori kognitif ini, lawan bicara
dapat menggali serta membaca informasi makna abtrak sesuai konsep dan pola
pikir yang dimaksud penutur dengan benar, sehingga terjadi komunikasi yang baik
antar pengguna bahasa.
Dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud makna abstrak dalam teori kognitif ini, yakni
mengedepankan pola pikir serta memunculkan ide pada penutur serta lawan penutur
dengan menggunakan kemampuan kogitif masing-masing pengguna bahasa. Semakin
tingginya kemampuan kognitif seseorang dalam berbahasa semakin mudahnya
seseorang untuk dapat memahami informasi makna ganda yang terkandung dalam
tiap-tiap tuturan kalimat lawan bicara sehingga semakin meminimalisir adanya
ketaksaan bahasa terutama dalam bahasa Asing.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan:
1) Informasi makna sangat
berperan penting dalam penggunaan bahasa karena dengan menganalisis informasi
makna dalam tiap konteks kalimat yang ada maka pengguna bahasa mampu menemui
adanya makna lebih atau ganda dalam suatu konteks kalimat.
2) Teori kognitif sangat
berhubungan dengan ketaksaan. Ketaksaan mampu dihilangkan dalam suatu konteks
kalimat dengan menggunakan teori-teori yang ada termasuk teori kognitif
tersebut. Dimana adanya teori kognitif pragmatik ini mampu memilah maksud makna
yang ada dalam suatu konteks kalimat.
3) Makna abstrak dalam
teori kognitif, yakni mengedepankan pola pikir serta memunculkan ide pada
penutur serta lawan penutur dengan menggunakan kemampuan kogitif masing-masing
pengguna bahasa.
4) Semakin tingginya
kemampuan kognitif seseorang dalam berbahasa semakin mudahnya seseorang untuk
dapat memahami informasi makna ganda yang terkandung dalam tiap-tiap tuturan
kalimat lawan bicara sehingga semakin meminimalisir adanya ketaksaan bahasa
terutama dalam bahasa Asing.
DAFTAR PUSTAKA
Leech, Geoffrey N. 1983, Principles of
Pragmatics, London, New York: Longman
Searle, J. 1975, Indirect Speech Act
dalam P.Cole dan J. Morgan (ed), Syntax and Semantics
Subandi 2005, Antara
Kebohongan dan Kesopanan, makalah Seminar Nasional Kajian Jepang
Se-Indonesia bekerjasama dengan The Japan Foundations Jakarta di Jakarta
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik
Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik
2. Pemahaman Ilmu Makna. Bandung:
ERESCO.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik
1. Pengantar ke Arah Ilmu Makna. Bandung: ERESCO.
http://badranaya11.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Selasa, 21 Agustus 2012
Hijab 1st"
Suliitttt sekali pemirsa...membuat dan memperindah blog itu..berhubung saya masih newbee maaf jika blog masih sangat kacau...saya lgi googling cari tips dan trikx...hahahaha
oke this time saya mau ngeshare bagaimana berhijab sederhana dalam kondisi sehari-hari atau casual...
berhubung saya masih belum siap tutor dari saya sendiri karena blum siap logo dan lainnya, saya akan ngeshare foto hijab yang saya ambil dari tetangga blog...hahahaha (ini jujur)...
oke for the first...
oke this time saya mau ngeshare bagaimana berhijab sederhana dalam kondisi sehari-hari atau casual...
berhubung saya masih belum siap tutor dari saya sendiri karena blum siap logo dan lainnya, saya akan ngeshare foto hijab yang saya ambil dari tetangga blog...hahahaha (ini jujur)...
oke for the first...
Senin, 20 Agustus 2012
The Truth Inspiration
Hei...Udah luamaa sangat gw..ehem mksud gw "saya" tak pernah mengepos blog ini lagi..mkin branjak menjauh dari ke "alay" an makin dekat ke jalan kedewasaan..amin..
this time, I want to share my new inspiration about my religion...
seiring jaman, jilbab makin berkembang, wanita berjilbab saat ini tidak di pandang sebelah mata lagi, style berjilbab dan busana muslim makin maju dan berkembang, kali ini saya benar-benar menemukan jalan yang pas untuk saya..jalan yang menuju kebaikan Allah..amin..
namanya "HIJAB" style ini sangat menginspirasi saya dalam kehidupan saya sehari-hari...
dahulu wanita berjilbab bergaya biasa dan sederhana..
dan kali ini wanita berjilbab semakin bisa menunjukkan style-nya..inspirasi para "Hijaber" begitu wanita berjilbab yang mengikuti gaya hijab disebut adalah salah satunya DIAN PELANGI.
dan semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kebaigan da pendidikan...tidak hanya sekedar omong kosong saja :D
have fun girls...
this time, I want to share my new inspiration about my religion...
seiring jaman, jilbab makin berkembang, wanita berjilbab saat ini tidak di pandang sebelah mata lagi, style berjilbab dan busana muslim makin maju dan berkembang, kali ini saya benar-benar menemukan jalan yang pas untuk saya..jalan yang menuju kebaikan Allah..amin..
namanya "HIJAB" style ini sangat menginspirasi saya dalam kehidupan saya sehari-hari...
dahulu wanita berjilbab bergaya biasa dan sederhana..
dan kali ini wanita berjilbab semakin bisa menunjukkan style-nya..inspirasi para "Hijaber" begitu wanita berjilbab yang mengikuti gaya hijab disebut adalah salah satunya DIAN PELANGI.
dan semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kebaigan da pendidikan...tidak hanya sekedar omong kosong saja :D
have fun girls...
Senin, 21 Mei 2012
Minat Baca yang Tinggi dan Karakteristik Pendidikan Masyarakat Jepang
Abstrak
Pendidikan Jepang adalah suatu pendidikan yang berkarakteristik dimana perundang-undangan tentang pendidikan banyak dibuat dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya baik oleh pemerintah pusat, daerah hingga prefektur. Karakter pendidikan yang kuat dengan profesi guru yang benar-benar total dalam bidangnya mampu menjadikan Jepang sebagai Negara yang diakui oleh seluruh dunia. Budaya baca yang mereka miliki turut andil dalam mensukseskan kemajuan individu masyarakat Jepang. Karena dengan banyak-banyak membaca mereka mampu menjadi suatu pribadi yang unggul karena dapat mengetahui segala informasi di dunia dan dalam dunia bangku persekolahan keuntungannya semakin menjadi pusat perhatian dalam lingkup sekolah yang mereka ikuti. Dengan sering membaca peluang mendapatkan pendidikan yang lebih baik akan semakin besar.
A. Pendahuluan
Manyarakat Jepang dikenal sebagaia bangsa yang sangat memegang teguh apa yang telah diajarkan oleh nenek moyangnya terdahulu. Selain disebut sebagai bangsa yang demikian, masyarakat Jepang juga dikenal sebagai masyarakat yang memiliki hasrat tinggi akan ilmu pengetahuan. Mengapa bangsa yang dahulu pernah terkena serangan nuklir dalam perang dunia kedua ini dapat begitu majunya hingga hampir menyaingi Negara Adidaya yakni Amerika Serikat? Hal itu juga masih banyak pihak yang bertanya-tanya akan kehebatan Negara kuasa kedua ini. Jika ingin menyelami bagaimana masyarakat Jepang di dunia ilmu pengetahuan dapat berkembang, maka sebelumnya harus memahami bagaimana pendidikan yang terstruktur di sana sehingga mampu menciptakan sumber daya manusia yang sangat berkualitas dan berkarakter.
Dari adanya pemikiran tersebut, maka penulis mencoba meneliti minat baca masyarakat Jepang terhadap hubungannya dalam pendidikan individu mereka. Dengan minat membaca, tidak dapat diragukan seseorang yang sangat ingin mengetahui suatu informasi tentang ilmu yang dia inginkan dapat mendapat apa yang dia cari. Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu bangsa, manusia semakin hari semakin maju dan merekam semua ilmu yang mereka dapat dari berbagai media. Media yang paling sederhana adalah buku. Sejak awal jaman masehi, manusia menyimpan semua ilmu yang ia dapat melalui secarik kertas, dan berkembang menjadi gulungan kertas kemudian semakin berkembang menjadi kumpulan kertas yang dikenal dengan buku. Dari buku itu manusia di dunia mempelajari apa yang leluhurnya telah tinggalkan semasa mereka hidup. Banyak pengetahuan yang dapat diambil melalui sebuah buku, namun minat baca sangat diperlukan untuk mendapat ilmu yang diinginkan tanpa melalui media lain, seperti guru, sekolah dan lainnya. Bahkan hanya membaca halaman depan sebuah Koran saja, kita dapat mengetahui apa yang telah terjadi kemarin dan hari ini di sekitar kita.
Bagi bangsa Indonesia menumbuhkan minat baca masih kurang dalam kenyataannya di lapangan. Para orang tua sendiri kebanyakan masih meremehkan akan pentingnya minat baca bagi anak usia dini. Mereka cenderung memilih membelikan mainan tanpa diimbangi dengan pembelajaran yang dapat diambil selama anak itu dalam usia dini dengan keadaan otak yang masih segar dan mudah dimasuki wawasan-wawasan sederhana dengan benar. Semakin dibiarkan anak itu tumbuh tanpa kebiasaan membaca maka semakin sulit hal itu dilakukan kedepannya. Maka tidak kaget, remaja saat ini lebih memilih bermain-main daripada pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca satu buku saja.
Olehkarena itu, mempelajari karakteristik bangsa lain mungkin dapat membantu diri sendiri dalam menghadapi permasalahan sehari-hari paling tidak dapat mengubah pola pikir dan karakteristik yang salah saat dibentuk sejak dini dahulu.
B. Karakteristik Pendidikan Masyarakat Jepang.
Jepang dikenal sebagai masyarakat yang penduduknya lebih terpusat, padat dan homogen dari karakter masyarakat yang seperti itu sangat memudahkan bagi pemerintah untuk mengatur negaranya sesuai apa yang diinginkan. Terutama mengatur sistem pendidikan di Jepang. Sistem pendidikan di Jepang sekarang memberi kesempatan pada siswa tamatan sekolah menengah atas untuk mendapat pendidikan lanjut yang bermacam-macam dan kesempatan itu seperti yang ada di Negara Amerika, Cumming,William K dari buku terjemahan Soedoro,amin (1980:6).
Selain itu terdapat banyak faktor yang mendukung masyarakat Jepang mampu menyeimbangkan sistem pendidikan yang diciptakan pemerintahanya dengan baik. Di kutip dari terjemahan Soedoro, amin dari buku Cumming, William K (1980:6-17) yaitu,
1. Perhatian pada Pendidikan Datang dari Bermacam Pihak
Dari faktor di atas, banyaknya pihak yang memperhatikan akan pendidikan juga mendorong keinginan masyarakat untuk bersaing mendapatkan pendidikan yang layak. Selain itu masyarakat umum mempercayai jika seseorang mendapatkan pendidikan yang layak maka sangat mudah bagi orang itu menjadi pribadi yang maju. Maka para orang tua mengusahakan dengan sebaik mungkin bagaimanapun caranya agar anak mereka dapat mencapai kelulusan dan pendidikan yang tepat.
Pemerintah sangat memandang penting sebuah pendidikan, pemerintah Jepang sangat bertanggung jawab atas kemajuan bidang pendidikan bagi masyarakat Jepang itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan adanya pasal 26 dari konstitusi Jepang menetapkan: “Seluruh rakyat berhak mendapat pendidikan yang sama sesuai dengan kemampuannya…seluruh rakyat wajib bertindak agar semua putera-puteri di bawah asuhan mereka memperoleh pendidikan biasa…pendidikan wajib demikian bersifat cuma-cuma.”
2. Sekolah Jepang Tidak Mahal
Mengapa biaya pendidikan jepang dikatakan rendah? Itu dikarenakan jumlah pengeluaran pendidikan baik itu dalam kompleks lembaga pendidikan itu sendiri atau pengeluaran pendidikan global tidak sepadan. Jepang dibanding dengan Negara maju lainnya lebih condong pada biaya untuk membangun gedung dan perlengkapan baru, sedangkan pengeluaran untuk membiayai staf lebih sedikit. Di Jepang karyawan pembantu (staf) di suatu lembaga pendidikan bisa dikatakan sendikit, mereka lebih memilih mempercayakan segala urusan baik itu mengajar, penyuluhan, dan administrasi oleh guru. Sedangkan di Amerika pekerjaan-pekerjaan yang demikian dikerjaan oleh para ahli. Sedang pada bagian mendistribusikan makanan, membersihkan kelas dan fasilitas-fasilitas sekolah para siswa lah yang mengerjakan pekerjaan itu semua dengan model piket. Oleh karena itu pengeluaran untuk staf dapat ditekan dan biaya dapat digunakan untuk membangun fasilitas sekolah yang lebih dibutuhkan.
3. Di Jepang Tidak Ada Diskriminasi Terhadap Sekolah
Setelah terjadinya perang dunia kedua pemerintah Jepang sangat memandang penting apa itu kualitas pendidikan tiap prefektur. Masing-masing sekolah baik itu sekolah yang memiliki fasilitas yang lengkap atau sekolah di pedesaan terpencil disamakan biayanya. Pada prefektur yang kurang diperhatikan diberikan tunjangan bahkan untuk sekolah yang sangat terpencil diberikan banyak subsidi agar sekolah itu dapat terus berjalan. Selain itu dewan sekolah di Jepang tidak terlalu tergantung pada bantuan pemerintah, mereka membangun sekolah seluas mungkin agar mendapat sumbangan dari berbagai sumber pajak. Pemerintah Jepang sangat memperhatikan sekali tentang pendidikan dapat dikatan undang-undang dan ketetapan tentang pendidikan sangat banyak dan sangat direalisasikan.
4. Kurikulum Sekolah Jepang Amat Berat
Menurut Cumming, William K (1980:10) bahwa pemerintah pusat merancang jalur studi yang sangat terperinci menentukan apa yang harus dikerjakan dan memeriksa buku-buku pelajaran yang dijual untuk menjamin isi buku-buku itu sesuai dengan standar resmi. Dengan cara ini maka siswa di seluruh negeri mendapatkan pengetahuan yang sama isinya dan dapat keuntungan yang sama.
Pemerintah mengharuskan tiap sekolah memberi pelajaran sekurang-kurangnya 240 hari setahun dapat disimpulkan umumnya siswa jepang masuk sekolah 6 hari setiap minggu, selama 40 pekan.
5. Sekolah sebagai Unit Pendidikan
Di Jepang yang menjadi unit dasar pendidikannya bukanlah kelas atau ruang kelas. Guru tak segan-segan menegur atau memperingatkan siswanya jika melihat siswanya melakukan tindakan yang kurang pantas di luar ruang kelas. Di sekolah dasar jepang sangat terlihat perubahan siswa dari tahap ke tahap, tiap musim guru selalu merancang kegiatan sekolah yang terpadu sesuai dengan tujuan pendidikan. Jadi dapat di simpulkan sekolah menjadi unit dasar dalam pendidikan.
6. Guru Terjamin Tidak Akan Kehilangan Jabatan
Dalam memperhatikan nasib guru, para guru Jepang mendirikan perserikatan guru Jepang untuk mempertahan atau membela hak guru apabila ada organisasi atau lembaga luar yang mengganggu mereka. Namun guru Jepang tidak sewenang-wenang dengan perlindungan yang mereka dapatkan dari perserikatan guru. Di tahun-tahun ajaran baru mereka berusaha sebaik mungkin melakukan dan memperbaharui pengalaman mengajarnya agar lebih baik lagi.
7. Guru Jepang Penuh Dedikasi
Di sekolah terdapat sejumlah mekanisme yang membuat guru melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Di sekolah, guru menyediakan waktu yang banyak guna membahas pengajaran pada umumnya, serta pertemuan dua pekan sekali antar staf guru serta seminar setiap tiga bulan sekali.
8. Guru Jepang Wajib Memberikan Pendidikan “Orang Sepenuhnya”
Tujuan sekolah adalah membentuk anak memiliki hati yang bersih dan lapang, jasmani yang kuat lagi sehat, memajukan nafsu ingin tahu dan mempunyai prestasi intelektual, merangsang kesediaan menderita apa saja dalam segala usahanya, membantu setiap anak menyadari bahwa kesanggupannya melengkapi kesanggupan teman-teman sekelas.
9. Guru Jepang Bersikap Adil
Suasana berjuang yang dialami guru Jepang dan dimana mereka bekerja membuat mereka secara ideologis menjadi lebih masak. Pemerintah sering mendiskriminasikan siswa sesuai bakat yang dimiliki, namun bagi guru mereka menetang keras akan adanya diskriminasi bakat. Pendapat mereka pengelompokan anak-anak yang termasuk golongan rendah dan golongan minoritas akan hanya cocok buat pekerjaan rendah selama-lamanya.
C. Minat Baca Masyarakat Jepang
Minat baca masyarakat Jepang yang tinggi bukan saja terbatas pada bacaan berupa buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi, karya sastra, dan sejenisnya, tetapi juga terhadap media massa seperti Koran, meskipun kita tahu di abad ini teknologi elektronik juga berkembang demikian pesatnya, namun sumber bacaan yang berupa Koran masih menduduki peringkat yang tinggi. Nampaknya membaca sudah merupakan faktor kebutuhan dalam kehidupan bangsa Jepang. Di sinilah “Faktor Kebutuhan” merupakan salah satu faktor keberhasilan sehingga mereka dikenal oleh masyarakat dunia sebagai masyarakat yang literat itu. Bagi Jepang sepertinya berlaku motto “Tiada hari tanpa buku” dalam mengisi kehidupannya. “Japanese often read on the train to and from work and school”, demikian penjelasan Tanaka (Djodjok Soepardjo, Wawan Setiawan 1999:34).
Yang paling banyak dibaca masyarakat Jepang dimanapun mereka berada biasanya adalah buku bunko-ban (sebutan yang popular untuk buku-buku berukuran kecil 105 x 148 mm), dan buku shinsho-ban (sebutan untuk sekelompok buku yang umumnya terdiri dari buku nonfiksi berukuran 105 x 173 mm). Buku-buku jenis tersebut sangat diminati orang Jepang disamping berukuran kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana harganya pun relatif murah.
D. Pengaruh antara Minat Baca Tinggi terhadap Pendidikan Jepang
Adanya minat baca yang tinggi dan karakteristik pendidikan yang kuat sangat berpengaruh besar pada perkembangan bangsa Jepang baik dilihat dari sudut masyarakat atau individunya. Semakin seringnya mereka membaca semakin banyaknya ilmu secara tidak langsung atau tanpa campur tangan langsung dari segi pendidikan yang mereka dapatkan. Ilmu dari luar itu ditunjang pula dengan pembentukan karakter mereka di sekolah dengan berbagai peraturan dan norma serta tidak adanya diskriminasi individu. Pada akhirnya melahirkan individual-individual yang berkarakter di dunia kerja.
Alasan lain selain dari individu Jepang masing-masing yakni persaingan pengetahuan dan wawasan pada sesama siswa. Siswa jepang berlomba-lomba mendapatkan nilai dan perhatian guru tentang wawasan yang mereka dapat selain ilmu yang mereka dapatkan di sekolah. Dengan semakin terlihat unggul dari siswa lain peluang dalam mendapatkan pendidikan dan perguruan tinggi yang mereka inginkan semakin besar.
Jepang telah mencapai kemajuan yang mencolok dan meraih hasil-hasil yang menonjol di bidang-bidang seperti fisika murni, astronomi, seismologi, patologi, matematika, genetika, kimia polymer tinggi, kimia organic, microbiologi, metalurgi, agronomi, perikanan, biologi, molekuler, dan telekomunikasi. Dari bidang-bidang itu mereka mampu dilihat oleh masyarakat dunia dan diakui sebagai bangsa yang hebat dan sangat maju. Bahkan sampai mereka berhasil dan sukses mereka masih membawa buku dan selalu menambah ilmu mereka terus-menerus tanpa puas terhadap hasil-hasil hebat sebelumnya yang mereka raih. Itulah hebatnya bangsa Jepang yang mampu mengaplikasikan hasil membaca mereka sejak dini dan hasil yang mereka dapatkan di sekolah dalam kehidupan berkarakter mereka.
E. Sumber Daya Manusia yang Berkarakter.
Dengan adanya kebudayaan membaca yang tinggi dapat disimpulkan dengan mudah, masyarakat Jepang mampu mendapatkan segala pengetahuan di seluruh dunia yang mereka inginkan. Pendidikan yang tertata rapi dengan perundangan tentang pendidikan yang sangat dijunjung tinggi serta dedikasi seorang guru yang sangat besar akan tanggung jawabnya mendidik siswa semakin menjadikan karakteristik individual dapat terbentuk dengan sempurna. Karakter persaingan yang tinggi dan kemauan yang kokoh sudah mereka temui sejak di bangku persekolahan sehingga di dunia kerja hingga menuju ke dunia global individu Jepang tidak kikuk atau kaget dengat suasana persaingan tinggi tersebut.
Kemauaan yang tinggi telah mereka pupuk saat mereka mendisiplinkan diri mereka sendiri untuk mampu membaca atau menghabis beberapa buku yang ingin mereka baca dimanapun mereka berada baik di tempat umum atau di perpustakaan. Karena mereka mampu mendisiplinkan diri mereka sejak dini maka saat mereka bertemu dengan dunia kerja dan dunia luar yang sangat kejam, cita-cita dan kemauan mereka akan tujuan hidup yang besar tidak akan goyah dengan apapun. Karena bagi mereka mendisiplinkan diri pribadi adalah sesuatu yang sudah biasa sehingga terciptalah sumber daya manusia yang berkarakter tinggi dan bermutu bagi dunia luar. Jadi tidak perlu heran jepang mampu mengejar ketertinggalan mereka sejak jatuhnya Jepang di perang dunia kedua. Hal itu dikaarenakan individu mereka yang homogen dan penuh dengan kemauan untuk maju.
F. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya baca jepang sangat membantu jepang dalam dalam membentuk karakter yang kokoh dan adanya karakter pendidikan yang tepat pula sehingga semakin mendukung pembentukan karakter individu tersebut. Pendidikan dan budaya baca adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain dalam faktor mengenai kemajuan jepang saat ini. Bagaimanapun juga budaya yang baik membentuk Negara yang baik pula. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan bangsa Indonesia bahwa segala sesuatu di mulai dari membaca, jendela dunia adalah buku, kita dapat mengetahui apa yang ada di dunia dan yang terjadi di dunia slama ini melalui buku. Dan informasi dalam buku tersebut dapat diketahui tentu saja melalui membaca, maka jangan bosan-bosan membaca.
Daftar Pustaka
Cummings, William K.,1984, Pendidikan Dan Kualitas Manusia di Jepang, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Keduataan Besar Jepang,1985, Jepang Sebuah Pedoman Saku, Jakarta: Foreign Press Center Japan
Soepardjo,Djodjok dan Setiawan, Wawan, 1999, Budaya Jepang Masa Kini (Kumpulan Artikel), Surabaya: CV BINTANG
Langganan:
Postingan (Atom)
Kebencian ku pada kalian!!
Aku sudah merasa rindu saat-saat bersama mereka. 40 Orang dari 23 Negara kalau saya tidak salah ingat. Dengan latar belakang pekerjaan yan...
-
Bagaimana cara anda menyantap makanan? Apakah anda akan menyantap makanan dalam satu piring? Ketika anda memakan makanan b...
-
名前: Naily Zahrotul F. 番号: 092104031 第7課 文型 1. ~そうだ (hal 68) Sudjianto mengatakan ...
-
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Keambiguitasan dalam dunia bahasa sering terjadi dikarenakan penggunaan bahas...









